The Poetry Cafe is located in Covent Garden, London, UK. The cafe is the “public face” of The Poetry Society where you can go to learn more about the society or go for a quiet place to read and write, enjoy a vegetarian meal, coffee and dessert or attend the nightly poetry readings. (via teachingliteracy, bookoasis)
(via bookmania)
Sulit rasanya bangun dari tidur yang penuh dengan mimpi buruk. Saya seakan bahagia dengan mimpi buruk. Bahkan, saya merasa mimpi buruk sudah menjadi bagian hidup saya. Ingin rasanya bangun dan enggan untuk terlelap lagi karena takut akan hadirnya mimpi buruk. Hingga suatu waktu, ada yang membangunkan saya dan dia meyakinkan saya “tidurmu tak akan pernah diganggu mimpi buruk lagi”. Dan, saya percaya padanya. Berbulan-bulan saya bersahabat dengan mimpi yang indah. Ketika bangun tidur pun senyum pasti saya lemparkan untuk menyambut pagi. Walaupun kini orang yang meyakinkan saya sudah tak berada di dekat saya tapi saya akan selalu ingat dengan jasanya. Banyak nasihat, cerita hidup, ilmu, dan bahagia yang diberikan untuk saya. Mungkin saya tidak dapat membalas jasanya dengan hadiah yang rupawan. Hanya do’a yang akan kukirim untuknya.
Minggu lalu, saya kembali bersua dengan sahabat-sahabat terbaik dalam hidup saya. Sudah lama kami tak bertatap muka & berbicara yang tak penting. Pembicaraan tak penting ini yang membuat rindu gundah gulana lalu bikin gelisah. Kalau saya sedang bertemu dengan sahabat sudah pastikan tak ada topik karena pertemuan kami bukanlah program talkshow, yang kita bicarakan adalah hal-hal yang tak penting & ngalor ngidul mengalir sampai jauh. Hal yang tak penting tuh seperti nostalgia kebodohan di masa lalu & diracik kembali agar kebodohannya tetap masa kini, mengikuti perkembangan tren zaman sekarang. Jangan ditanya ketawa macam apa yang keluar saat bertemu sahabat yaa pasti ketawanya sangat hiperbola karna sebagian hal yang kita bicarakan sudah pernah dibicarakan pada abad-abad sebelumnya dengan sahabat kita tapi tetap kita tertawa tak eling & tak ingat tetangga sekitar. Rasanya terlalu pusing kepala ini jika bertemu sahabat untuk membicarakan hal yang penting & terlalu serius. Sehari, seminggu, sebulan kita sudah lelah dengan kerjaan atau aktifitas jangan ditambah lagi dengan pembicaraan terlalu serius bisa bahaya untuk otak & paras muka (re : terlihat lebih tua). Maka dari itu, saya selalu menyempatkan untuk berkumpul dengan sahabat saya karena saya rindu untuk membicarakan hal-hal yang tak penting.
Saran dari saya, jika sedang penat, bosan & bingung dengan kelanjutan hidupmu maka segeralah hubungi sahabat terbaikmu niscaya ada titik terang di dalam hidupmu (moasaa?!).
Mendengarkan orang bercerita tentang karirnya, hidupnya & keluarganya sudah menjadi bagian hidup saya akhir-akhir ini. Banyak yang saya dapat dari cerita setiap orang tapi terkadang saya suka bertanya dalam hati “Bener ga sih solusi yang gue kasih?”, “Bener ga sih yang gue omongin barusan?” & “Mereka tenang ga ya sama jawaban dari gue?”. Gundah gulana dalam hati saya sering mengganggu tapi ini semua harus tetap saya jalani karena sudah menjadi bagian dari kerjaan saya.
Let’s have a little flashback..
21/12/10, jantungku berdegup cepat, kaki bergetar hebat & pikiran berlari ke hal-hal yang seharusnya tak kupikirkan. Tidur pun terganggu jam 02:00 WIB aku sudah terbangun dengan gelisah memikirkan skripsiku yang berjudul “Strategi Kreatif Untuk Meningkatkan Rating & Share pada Program di Televisi (Studi pada Program “Kacamata” di Trans 7)”. Seharusnya saat seperti ini saat dalam kondisi yang cukup tidur tapi yasudahlah. Akhirnya jam 06:30 WIB, saya pun berangkat dari rumah tercinta bersama keluarga tercinta menuju kampus untuk mau tak mau melaksanakan sidang skripsi. Rasanya di dalam ruangan yang diisi oleh Pembimbing, Penguji, Ketua Sidang & orang-orang penting dalam hidupku berubah menjadi panas padahal pendingin ruangan sudah menjalankan fungsinya dengan baik. Sidang pun berjalan, akhirnya isi skripsi saya pun ditanya bolak balik oleh Ibu Penguji lalu saya juga menyaksikan Mas Pembimbing yang sibuk dengan botol airnya entah grogi entah haus, di sisi yang lain Ibu Ketua Sidang sibuk mencoret kertas setiap dia mencoret kertas rasanya sepertinya keringat saya ikut berjatuhan satu persatu & kulihat orang-orang terbaik dalam hidupku terus menyemangatiku melalui senyuman dahsyatnya. Yes! Sidang pun berakhir dengan lancar jaya. Senyum semua orang di ruangan itu membuat saya sulit untuk berkata-kata. Yaaa intinya, Alhamdulillah nanti malam saya bisa tidur pulas :D
18/07/11 Ini hari pertama saya bekerja di sebuah perusahaan konstruksi elevator & eskalator sebagai HR Officer (Management Trainee). Banyak hal yang saya pelajari tentang dunia konstruksi. Bagaimanapun saya harus mengenal bisnis perusahaan saya agar saya mengetahui apa kemauan dari para karyawan di kantor ini. Saya pun dituntut untuk sering mengunjungi proyek, sangat memacu adrenalin pemirsah! Saya tak pernah membayangkan sebelumnya akan menggunakan safety helmet, safety shoes & safety vest atau alat-alat lain yang sering digunakan orang-orang di proyek. Sebagai HR Officer saya diharuskan untuk melakukan interview untuk para job seeker, mendengarkan curahan hati para karyawan, menjembatani kemauan management & karyawan, mengurus gaji karyawan & masih banyak lagi (tak cukup jika ditulis disini). Bekerja di perusahaan multi national banyak mengajarkan banyak hal untuk saya terutama tentang kedisiplinan & yang paling mahal adalah mengembangkan networking dengan teman-teman dari cabang negara lain. Well, sampai hari ini saya merasa beruntung menjadi seorang HR Officer seumur jagung tanpa pengalaman apapun tapi sudah dipercaya untuk mengetahui segala hal tentang perusahaan ini, tidak semua karyawan diberikan kepercayaan ini.
29/10/11 Akhirnya saya mengenakan toga yang ingin dipakai oleh banyak orang setelah hampir setahun lulus. Rasa haru & bahagia bercampur menjadi satu karena Ummi & Buya untuk pertama kalinya, melihat wisuda anaknya. Terima kasih untuk keluarga & kawan, tak mungkin saya menulis ulang nama kalian satu persatu karena disini bukan lembar ucapan terima kasih. FYI, megisi lembar ucapan terima kasih lebih sulit dibanding mencari data untuk skripsi (Seriously!). Saran dari saya buatlah ucapan terima kasih terlebih dahulu sebelum membuat skripsi.
21/12/11 Saya benar-benar bahagia bisa bertemu hari ini, rasanya seperti kilas balik ke masa lalu. Saat ini saya lebih mengerti makna susah & sukses di dalam hidup ini. Alhamdulillah. Saya siap untuk berlayar & melawan ombak tinggi yang menghadang.
Well, due to my graduation I wanna say thank you so much for Mr. Edoardo Irfan. You really did a good job. Won’t forget your help, Sir. I’m lucky to know you first. Good luck for your next debut. So, when are we going to discuss while talking over coffee? Really miss the sekeripsi thingy.
Gembira selalu menyapa saya setiap kali saya akan menuju Daerah Istimewa Yogyakarta. Jujur saja, saya paling malas berkemas tapi kalau tujuan wisatanya adalah Jogja pasti saya akan berkemas dengan seketika. Terkadang saya menggunakan penerbangan yang hobinya telat tapi kalau ke Jogja sudah dipastikan saya akan duduk tenang di ruang tanggu sambil nguyah jenggot papa eh beard papa padahal saya paling murka dengan yang namanya menunggu.
Pertama kali ke Jogja, waktu umur saya masih sangat kecil bahkan saya hanya berhasil mengingat momen-momen yang tak penting seperti pipis di celana lalu dimarahi Ibu saya. Ada juga kok yang penting seperti berkunjung ke beberapa tempat wisata khas Jogja dan pertemuan pertama dengan Jogja kali itu berhasil membuat saya jatuh hati hingga saat ini. Semacam cinta pada pandangan pertama.
Banyak hal menarik yang membuat saya selalu semangat di Jogja seperti asupan untuk mata dan asupan untuk perut. Banyak pemandangan yang tak dapat saya temukan di Jakarta bisa saya temukan di Jogja seperti Bangungan jaman baheula yang penuh sejarah, Bapak-bapak yang hilir mudik dengan sepeda onthel, Ibu-Ibu yang sibuk dengan batik, dan Anak muda yang sibuk dengan pelajar hehe maksudnya sibuk belajar. Seringkali, mata saya ini pun disuguhkan dengan karya seni yang beraroma sejarah dan guyonan khas Jogja yang jika digabungkan menjadi karya seni yang apik! Banyak sekali seniman Jogja yang membuat saya jatuh hati. Kalau untuk asupan perut di Jogja sudah tak usah perlu ditanyakan lagi selain saya pemakan segala, kuliner khas Jogja memang enak dan murah cyiiiiin. Gudeg, Sate Klathak, Soto Kadipiro, Bakpia Pathok dan lain-lain selalu berhasil membuat saya lapar mendadak!
Walaupun kata cah Jogja sekarang Jogja mulai macet tapi buat saya macetnya belum seberapa kok dibanding Jakarta dan Jogja masih nyaman untuk dikunjungi. Ah pokoknya Jogja makin lengkap dan makin istimewa untuk saya hingga saya ingin sekali bisa menetap di Jogja, semoga ini bisa terwujud dalam waktu dekat.
I love you YOGYES! (re : yogya)